Rabu, 2009 Juli 08

RIP Michael Jackson :(

Life is pleasant. Death is peaceful. It's the transition that's troublesome.
(Isaac Asimov)

Waktu laserdisc sedang berjaya, bapak saya senang sekali menyewa video-video baik film maupun lagu-lagu. Sesekali bahkan ia membeli sendiri. Saya yang waktu itu masih kecil, lugu, polos, imut, dan belum tahu dosa itu apa, sangat senang kalau diijinkan ikut nonton. Yang paling sering diputar biasanya sih video lagu-lagu. Mulai dari lagu-lagu anak-anak (“Abang tukang bakso, mari-mari sini... Aku mau beli...”), tembang kenangan (“Bukit berbungaaa... Bukit yang indah...”), hingga lagu-lagunya Abang Michael Jackson. Saya suka sekali lihat videoklipnya yang “Black or White”. Err... “Thriller” juga. Banyak deh.

Kemudian, laserdisc punah. *halah* Dan MJ pun sudah jarang muncul dan mengeluarkan lagu-lagu baru, tapi saya tetap sering mendengarkan lagu-lagu beliau diputar di radio-radio. Apalagi kalau sudah malam, yang biasanya diputar tuh lagunya yang sendu-sendu. Misalnya “You’re not Alone”, “Heal The World”, “Ben”, “One Day in Your Life”, “Will You be There”. Banyak deh.





Ben, you're always running here and there
You feel you're not wanted anywhere
If you ever look behind
There's something you should know
You've got a place to go

Kalau saya penyanyi papan atas negeri ini lantas ditanya siapa musisi yang mempengaruhi musik saya, dengan pasti saya akan menjawab, “Michael Jackson!” pun ketika pertanyaan diubah menjadi siapa penyanyi favorit saya, siapa penyanyi yang paling sering saya dengar sewaktu kecil, atau siapakah musisi yang paling jenius menurut saya, jawabannya tetap sama : Michael Jackson.

Ketika saya bangun pagi di hari Jumat tanggal 26 Juni kemarin dan langsung disambut pengumuman dari kakak saya, “Yu, Michael Jackson meninggal.” Saya bengong. Hanya “Oh...” yang keluar dari mulut saya. Kemudian saya ke kamar mandi dan cuci muka. Seolah-olah itu merupakan hal biasa. Ya, memang hal biasa saja kan orang meninggal? Anda hidup, kemudian Anda mati. Apa yang luar biasa dari kematian kecuali kematian merupakan suatu kepastian?





You are not alone
For I am here with you
Though you're far away, I am here to stay
But you are not alone
For I am here with you
Though we're far apart
You're always in my heart


Setelah keluar dari kamar mandi, saya melihat tivi sedang menayangkan berita kematian MJ. Bapak saya dan kakak saya sedang nonton. Saya akhirnya ikut nonton. Disini saya baru benar-benar “sadar”. Reaksi asli saya baru keluar. Saya shock. Kaget. Saya... sedih.

Oke, saya ngaku. Saya tidak mau ikut terlarut dalam kesedihan. Saya pikir lah MJ ini siapanya saya? Saudara bukan, teman bukan, nge-fans banget juga gak... lantas kenapa saya harus sangat sedih sampai-sampai menangis segala, meraung-raung? Gak banget kan?


Penggemar : Lah Kim, hari Kamis sampai Minggu kemarin kamu ngedengerin
lagu-lagunya MJ sampai matamu berkaca-kaca segala apa itu bukan namanya sedih
banget?


Hiks... Ketahuan deh.

Kemarin itu tiba-tiba saya ingin men-download lagu-lagunya MJ di 4shared. Selama hari Kamis – Minggu kemarin tidak ada lagu lain di Windows Media Player saya selain lagu-lagunya MJ dan selalu saya dengarkan setiap kali saya membuka laptop saya. Menemani saat-saat saya online, entah pagi, siang, ataupun malam.

Dan semalam ketika saya nge-plurk lewat mobile, semua pada heboh ngomongin MJ. Ada juga yang berbagi video “One Day in Your Life” *lirik ke Kitin*.





One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you dont need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day . . .

Ah, rupanya semalam pemakamannya MJ. Perhatian dunia tertuju ke acara itu. Menurut teman saya, dimana-mana menayangkan acara pemakamannya. Jarang-jarang kan kematian seseorang ditangisi sebagian besar penduduk bumi dan menyedot perhatian kita semua? Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, dunia berkabung dengan meninggalnya MJ. Suatu bukti MJ itu orang besar.

Kesampingkan lah perkara dia yang katanya pedofil, telah melakukan pelecehan seksual atau entahlah, bolak-balik operasi plastik. Sebelum kita mencaci dirinya, memandang rendah dia dengan mengungkit-ngungkit kasus-kasus yang menimpa dirinya, ada baiknya kita membaca ini terlebih dahulu.

Sekarang mari kita lihat dia sebagai individu yang sangat berbakat di bidang musik. Karya-karyanya tetap awet hingga saat ini. Lagu-lagunya tetap didengarkan hingga detik ini. Album-albumnya masih dicari. Musiknya tidak seperti musik band-band kacangan yang sekarang sedang bertebaran disana-sini. Hari ini lagunya booming, besok menghilang. Hari ini pada heboh pengamen dimana-mana menyanyikan lagu-lagu murahan itu, besok orang-orang sudah pada bosan.

Ada yang mau membantah lagu-lagunya MJ tidak termasuk lagu-lagu yang everlasting? Ada yang berpendapat musiknya kacangan? Sini... saya pentung kalau ada yang sampai bilang musiknya MJ itu kacangan atau lagu-lagunya MJ itu sampah dan cupu. *siapin pemukul baseball*

Btw, sayangnya semalam saya tidak nonton pemakamannya MJ. :( Teman saya, Silmi, sampai bilang, “Cepetan Kim, nonton! MJ gak dimakamin dua kali!”

Hiks... Bukannya gak mau nonton, semalam kan saya sedang dikosan. Tivinya di luar. Mau nonton sendirian gak berani. Soalnya kemarin malam saya mimpi MJ ikut yasinan (padahal kan di mimpi saya itu ceritanya pembacaan yasinnya buat dia). Kan saya jadi takut... Belum lagi kemarin sore saya lihat di youtube video hantunya MJ. Makin takutlah saya.

Daripada saya mati ketakutan, saya lebih memilih untuk nonton acaranya di youtube saja. Pasti ada donk yang meng-upload acara pemakaman semalam ke youtube? Pasti adalah.

Jadi, permisi yaa... Saya mau ke youtube dulu. Mau lihat MJ memorial service. *halah, nggaya*

Hiks.





In our darkest hour, in my deepest despair
Will you still care? Will you be there?
In my trials and my tribulation, through our doubts, and frustration
In my violence, in my turbulence, through my fear, and my confessions
In my anguish and my pains, through my joy and my sorrow
In the promise of another tomorrow, I'll never let you part
For you're always in my heart.


huaaaa.......... Teman masa kecilku sudah pergi... Hiks...*garuk-garuk aspal*

nb : saya masih tidak percaya MJ sudah meninggal! :(

Kisah Penggemar Pemain Nomor 13 (Bagian II)

Untuk cerita bagian pertama silakan baca disini.

Minggu malam itu, setelah puas ber-sms ria dengan Cethe dan laptop telah selesai di-defrag, saya pun segera menghempaskan badan ke kasur. Mencoba untuk memejamkan mata dan berharap segera terlelap. Saya harus segera tidur. Tidak boleh tidur terlalu larut! Soalnya, pagi-pagi saya harus latihan futsal. Kan tidak lucu saya datang ke lapangan dengan keadaan kuyu dan kantung mata tebal? Atau ketika berdiri di bawah garis mistar gawang saya sibuk mengucek-ngucek mata dimana seharusnya saya fokus menangkap bola.

Untunglah insomnia saya sedang tidak kumat. Malam itu saya bisa tidur cepat dan bangun tetap telat. Dengan semangat pejuang ’45 dan bercita-cita suatu saat bisa dikontrak MU menggantikan Van der Sar *dilempar bakiak oleh orang sekampung*, saya pun datang latihan di Senin pagi itu. Seperti biasa, latihan dimulai dengan jam karet dulu. Kemudian, dilanjutkan dengan lari keliling lapangan 7x dan stretching. Setelah itu, seperti biasa latihan passing, dribbling, dan shooting. Untuk yang terakhir, saya tidak ikutan. Saya malah disuruh latihan menangkap bola-bola shooting *ya iyalah, Kim! Lo pan kiper. Pegimane sih lo?!*

Di sela-sela latihan, saya masih sempat (kembali) mengorek keterangan dari Cethe.


Saya : Cet, dia udah punya pacar belum?
Cethe : Kaya’nya belum deh.
Saya : Oh. *dan dilanjutkan tersenyum dalam hati*
Latihan pun menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya berhasil memblok banyak bola-bola shooting itu. Saya sempat jumawa. Dalam hati berkata, “Kalau Sir Alex Ferguson melihat ini, mungkin besok setelah saya lulus S1 saya langsung mendapat tawaran kontrak untuk main di MU. Atau bisa jadi saya dijodohkan dengan salah satu pemainnya. Park Ji Sung boleh lah...” *disiram*

Mungkin, karena terlalu jumawa ini membuat saya tidak fokus sehingga musibah itupun terjadi. Bola kencang dari tendangan teman saya mengenai pergelangan tangan kanan saya. Spontan saya berteriak kesakitan. Lagi, saya berkata dalam hati, “Ini toh yang namanya cedera? Sakit ya ternyata.”Gila! Sudah tertimpa musibah, masih sempat-sempatnya jumawa. Untuk kali ini, saya ikhlas deh ditimpuk. *menyodorkan koin 500 ke pembaca*


Penggemar : Duh... Kasian banget kamu, Kim! Pasti sakit banget tuh ya.

Ho oh. Sakit. Banget. Terpaksa saya tidak bisa bermain di pertandingan terakhir tim saya melawan tim perwakilan dari fakultas tetangga. Padahal saya sedang sangat bersemangat main. Berada di lapangan dan dikenal publik. Sebagai ajang eksistensi diri *dikeplak*. Terlebih lagi, dilihat si nomor 13. Wah, semakin yakin saya pasti akan bermain sangat bagus. Seandainya saja setelah pertandingan ada tes doping, pasti saya kena sangsi deh. Soalnya doping saya kan “dilihat oleh pemain nomor 13”. *kalem*

Duuuuhh... Pada gak tahan pengen muntah yaaa? Jangan muntah sembarangan dong. Nih, ember buat muntah... *sodorin ember ke para pembaca*

Satu hal yang saya pelajari dari hidup, jangan cengeng jadi orang! Tangan boleh sakit, tapi bukan berarti saya harus guling-guling di kasur kan? Ngendon seharian di kos dengan dalih tangan sedang sakit. Enggak banget deh. Apalagi sorenya tim saya kan main. Jadi, saya harus tetap datang dan memberikan semangat ke teman-teman saya yang main.


Penggemar : Ahhhh... Ahlesyan aja kamu, Kim! Bilang aja deh kamu itu pengen
ngeliat si nomor 13 main kaaan??

Uhukk... uhuk... uhuk... *batuk-batuk*

Ng... kok tau sih? Kok bisa tau? Kok bisa? Sih? Sih? SIH? Haiah. Sutralah kalau begitu. Saya ngaku deh...

Iya, kamu benar. PUAS? *gigit kabel*

Nah, sekarang lanjut lagi yah ceritanya. Sepakat? Sepakat dunk ah... *maksa salaman ke pembaca*

Singkat cerita, tim saya menang lawan tim fakultas tetangga itu. Dan yang lebih menggembirakan lagi, tim saya jadi juara I di Tropi. :D


Penggemar : Terus?

Terus... yah, saya tetap duduk di bangku penonton. Menanti dengan setia pertandingan terakhir. Menanti dengan sabar performa si nomor 13. (blush)

Saat sedang asyik menunggu, Cethe lewat di depan saya. Otomatis saya teriak memanggil namanya.


Saya : Cethe!
Cethe : Oi, Yu!
Saya : Cethe, dia udah punya pacar tauuuu...
Cethe : Hah? Kata siapa lo? Setau gue belum deh...
Saya : Gue liat di prensternya.
Cethe : ...

Iya, saya ngaku. Saya tanya ke Mbah Google soal si nomor 13 ini. Pikir saya, sudah ada Mbah yang sangat mumpuni dan mengetahui (hampir) segala jenis informasi ya kenapa tidak dimanfaatkan? Gratis pula. Baik lagi. Saya dikasih profil FB dan FS-nya si nomor 13 dunk. Tapi, berhubung saya belum nge-pren sama si nomor 13 jadinya saya tidak bisa melihat FB dia. Yang bisa dilihat hanya FS-nya. Disitu sudah terlihat jelas bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Entah wanita entah pria, saya tidak tahu. *dikemplang*

Yo weis, tidak apa-apa. Tidak ada kisah patah hati disini. Toh, saya kan cuma mengidolakan dia. Saya kagum dengan permainan bolanya. Tidak salah, kan? Apalagi ini mengaguminya dari jarak jauh saja. Mengutip kembali ucapan saya ke Cethe kemarin, “Ngefansnya ini underground style, Cet... Orang yang diidolain gak perlu tau kalo dia punya penggemar setia.”

Yah, tentu saja selama yang bersangkutan tidak berlangganan blog ini atau tanpa sengaja terdampar disini dan membaca postingan bagian I kemarin (juga tulisan ini tentu saja!) saya rasa keadaannya bakal aman-aman saja. Atau selama teman-teman saya, yang mengetahui kisah ini dan kebetulan berteman dengan si nomor 13, tidak banyak bacot cerita-cerita ke dia, ya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika dia tahu. Itu mah namanya bukan underground style lagi, melainkan surface style. *halah*

Kembali ke bagian tunggu-menunggu tadi.

Setelah beberapa jam menunggu di bawah terikan sinar matahari yang sungguh menyengat sore itu *lebay abis dah!*, akhirnya tim dia main juga! Saya langsung pasang pose paling menarik dan paling menggoda demi pertandingan itu. Sambil belajar kedip-kedip mata dengan anggun dan benar. Juga latihan menarik senyum yang manis untuk nanti dilemparkan ke dia jikalau dia melihat ke arah penonton. *uhuk*

Saya juga sudah berlatih olah vokal untuk meneriakkan nomor punggungnya. Berlatih dengan giat bagaimana caranya teriakan tidak terdengar parau, melainkan merdu. Tidak cempreng, tidak lemah, melainkan penuh power dan terkontrol dengan baik pitch-nya. Nah lho, teriakan merdu belum pernah dengar kan? Sama. Saya juga belum pernah dengar.


Penggemar : Loh, Kim, katanya udah latian teriak?

Sayangnya hasil latihan itu tidak saya aplikasikan. Pasalnya di sebelah saya waktu itu duduk teman-temannya si nomor 13. Jelas saya tidak enak hati kalau harus mempraktekkan hasil latihan saya. Nanti ketahuan deh kalau saya mengidolakan si nomor 13. Ogah deh kalau sampe ketahuan!

Jadinya saya melipir kaya’ ayam sayur. Sudah duduknya di pojok, tidak ada teman yang dikenal, terus tidak bisa bebas teriak-teriak memberi dukungan. Paling hanya berteriak dalam hati. Yang membuat lebih kesal lagi, dia kalah... :(

Itu artinya dia tidak bisa ke final deh. Hiks.

--bersambung--

Kamis, 2009 Juli 02

Kisah Penggemar Pemain Nomor 13 (Bagian I)

Setelah saya merasa dianggap remeh oleh sepupu saya, tadinya saya mau menulis menggunakan bahasa Inggris sebagai ajang pembuktian diri bahwa saya ini sedikit-sedikit paham lah bahasanya Mas Andy Murray itu. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir lagi cerita yang akan saya bagi ke para pembaca kurang pas kalau ditulis dalam bahasa Inggris. Kurang gigit, gitu deh... Nanti takut kehilangan “roh”-nya.

Penggemar : Halah! Lebay banget lo, Kim! Bilang aja lo males buka tutup kamus dan ngecek grammar-nya bolak-balik.

Ng... Itu juga salah satu alasannya sih... *tertunduk malu*

Baiklah, sekarang mari kita tinggalkan perdebatan apakah seharusnya saya menulis dalam bahasa Inggris atau tidak. Kali ini saya mau bercerita. Seru banget deh cerita saya kali ini, yah setidaknya itu menurut saya.

Hohohoho... Iya deh, saya tahu seru atau tidaknya itu sangat subyektif. Tapi kan ini salah satu cara untuk menarik minat para pembaca agar terus membaca tulisan kali ini hingga titik terakhir. Tidak membaca cepat, skimming, scanning, atau entahlah istilahnya apalagi. *merasa tersindir*

Penggemar : Kiiiiimmmm... Buru deh dimulai ceritanya! Gak usah kebanyakan bacot gitu lo! Gue buru-buru nih! Buru-buru mau ke WC!

Oh, oke... Oke... Tenang... Sabar, para penggemarku! Eh itu, kalau mau ke WC coba dibawa aja laptopnya, pcnya, atau hpnya ke WC. *dipentung pakai bata*

Ehem... Ehem... *berdehem*

Para penggemar saya yang sering mampir ke blog ini, dan para teman di Plurk pastinya, tentunya paham betul kesukaan saya akan olahraga futsal. Saking sukanya dengan olahraga satu ini, saya rela pulang malam demi mengikuti latihan. Bahkan, saya sampai membuat cerita bahan rumpian untuk pegawai-pegawai di TM Bookstore dan Bakso Lapangan Tembak Senayan yang di Detos karena pingsan disana setelah pulang latihan. (LOL)

Saya juga ikhlas pulang malam demi menonton pertandingan futsal (terutama pertandingan futsal cowok) yang diadakan di kampus saya. Bukannya apa-apa, selain saya memang hobi melihat permainan futsal itu sendiri, saya juga hobi melihat para pemainnya. Apalagi kalau yang main itu bening-bening mukanya, bebas jerawat, putih bersih, tampan menarik, berdompet tebal, setia, dapat dipercaya, ...

Penggemar : Kiiiiimmm... Please deh! Ini bukan ajang mencari jodoh!

Oh, maaf,... Tadi kehilangan fokus sebentar.

*kembali fokus*

Lanjut yah.

Dulu teman saya pernah bilang ke saya bahwa saya ini orangnya punya radar yang SANGAT bagus kalau sudah berurusan dengan pria-pria tampan. Maksudnya, indera penglihat dan indera perasa (baca: feeling, kata hati, ah terserah deh) saya bekerja dengan cepat jika ada pria tampan yang lewat atau sedang berada di dekat saya. Tidak peduli saya sedang baca komik atau sedang asyik menikmati sate ayam bumbu-kecap-tidak-pakai-bawang, seolah-olah ada yang membisiki saya, “Kim, disitu ada cowok cakep!” maka otomatis saya langsung menengok ke arah yang ditunjukkan oleh intuisi saya *cih!* dan... there! Pria tampan itu ada disana.

Nah, radar saya ini sangat berguna jika sedang nonton futsal di kampus soalnya bisa digunakan untuk tebar pesona ke sasaran yang tepat. (haha)

Seperti waktu acara Tropi (kompetisi futsal antar fakultas, red.) kemarin yang diadakan oleh FC 08 di kampus saya. Banyak tuh pemain tampan yang main disana. Kebanyakan sih dari fakultas lain. *ya iyalah, berhubung di kampus gue kekurangan cowok begitu*

Dari sekian banyak pemain yang membuat saya terkagum-kagum *lebay mode ON*, ada satu pemain yang membuat saya nge-fans abis sama dia. Kalau dibuat daftarnya, dia menempati urutan teratas pemain futsal terfavorit di Tropi versi Kimi. Anehnya, radar pria tampan saya tidak bekerja untuk idola saya satu ini. Soalnya, kalau dilihat dari wajah sih dia biasa-biasa saja (*pentung Kimi*, bah! Macam kau cakep saja, Kim!). Tapi benarlah kata orang bijak dulu jangan melulu melihat dari penampilan fisik.

Oke, saya menurut deh sama si orang bijak tersebut. Saya nge-fans sama idola saya ini bukan karena fisiknya melainkan karena permainan futsalnya yang yahud abis. Gocekannya boooooo’............ Mantabh banget daaahh!! Dibuatnya saya iri hanya dengan melihat permainannya. Saya sampai mengkhayal ke teman saya, Icha, “Cha, kapan ya gue bisa main futsal kaya’ dia?” Icha hanya senyum. Mungkin dalam hatinya malah mentertawai saya, “Kim, lo itu kiper! Kapan-kapan deh lo bisa sejago dia main futsalnya. Boro-boro mau jago, nendang bola aja kagak becus lo!”

Alhasil, setiap kali tim idola saya itu bermain dengan lantang saya menyemangati dia. “Ayo, 13!” atau “Semangat, 13!” FYI, 13 itu nomor punggungnya. Berhubung waktu itu saya tidak tahu namanya jadinya ya saya teriak-teriakin nomor punggungnya saja.

Beruntung ada teman sefutsal saya, Cethe namanya, yang kebetulan kenal dengan si nomor 13 ini. Maka dengan sigap, saya mengorek-ngorek informasi dari Cethe. Berkedok curhat, Minggu malam itu saya sms ke Cethe:

Saya : “... Btw Cet, gue mau curhat! Tapi, udah malu duluan. Hahaha... *blush*.”

Cethe : “Apaan dah? Udah yu... Keluarin aja...”

Saya : “Ah Cet, rahasia diantara kita saja ya. Gue ngefans sama si nomor 13. *blush* Beneran deh ya, Cet, cuma ngasih tau gini aja gue senyum-senyum sendiri. Dasar Kimi bodor! Hakhakhak...”

Cethe : “Ha? Aduhh.. 13 mana, Yu? Belanda?”

Saya : “Jiaah.. Yang kemarin gue tanya ke elo itu loh! Tim dari jurusan F*******. Ho, ho, ho... Beneran deh muka gue jadi merah. :D”

Cethe : “Oia! Gue inget lo nanya, tapi lupa siapa, lupa sama sekali. Parah dah... Hahaha... Gue ada FB-nya tuh... SM (demi kebaikan bersama, namanya sengaja saya tulis inisialnya saja, red.). Dia emang pemain liga pro tahun lalu, Yu... Seangkatan kita lho! Hohoho...” (Ini kenapa pula sih Cethe sebut-sebut “seangkatan kita”? Mentang-mentang belakangan ini saya kebanyakan naksir adik tingkat)

Saya : “Males ah ngeadd FB-nya. Nti status gue di FB terbaca olehnya dan ketahuan dah. :D Tuh orang yah.. buset dah. Keren mampus! Dikasih makan apa sama emaknya mpe jago bola begitu? *iri*” (Status di FB saya waktu itu “Ayu Kimi Rizkika is officially become a fan of player no. 13”)

Cethe : “Gak tau dah, Yu... Di ukor, dia yang paling kuat maennya. Maju mundur, gocek sana sini, emang TOP BANGET! Hohoho...”

Saya : “Gue bikin klub penggemarnya aja deh dengan gue sebagai ketua. Atau gue bikin fan page-nya sekalian di FB? Mwahahaha...”

Cethe : “Najonggg! Tapi boleh juga, Yu. Hahaha... Besok gue kenalin yaa kalo dia maen.. Maen gak dia besok?”

Saya : “Ah, ogah! Ngapain pake acara dikenalin segala? Ngefansnya ini underground style, Cet... Orang yang diidolain gak perlu tau kalo dia punya penggemar setia. *halah* Kaya’nya sih besok dia main deh...”

Cethe : “JIJIIIII! Hahaha...”

Saya : “Yang penting tuh ya Cet, bisa ngeliat dia maen secara live udah cukup kok buat gue. *gombal mode ON* :D Sekarang mah berdoa aja semoga dia bisa ke final. Biar gue bisa lebih sering liat dia. Hihihi... *ketawa genit*”

Cethe : “Huahaha! Amin dah, Yu! Asal lo semangat mah... Hohoho... Udah ah! Tidur lo! Besok pagi latian kita!”

Saya : “Hohoho... Baiklah, Cethe! Saya akan tidur setelah laptop selesai di-defrag. :D Selamat malam, Cet... Selamat tidur... Semoga besok kita menang ya! :)”

Cethe : “AMIN! Hohoho... Semoga dia menang juga yaa, Yu... Hehehe... Gudnite! =)”

Sms-annya pun berakhir sampai disitu. Saya dan Cethe kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya sibuk menunggu laptop selesai defrag-nya, sedangkan Cethe... entahlah dia sibuk apa. Sibuk tidur mungkin? :p

Setelah laptop selesai di-defrag, saya pun segera tidur. Tidak lupa berdoa sebelum tidur semoga saya tidak bermimpi buruk, semoga tim saya jadi juara 1 di Tropi, dan... semoga si nomor 13 main dan timnya menang. :D

--bersambung--

Selasa, 2009 Juni 30

This is What I Call Blast It!

What do you feel when someone doesn't answer your question for you already asking, like, thousands of time? What do you feel when someone you know passes you by without even looking at you for you already, like, waving to him (weird is he says hello to a person next to you)?


If you ask me, then I will answer I feel he or she has underestimated me. I take that as an act of trying to humiliate me, whether s/he is doing it on purpose or not. I will conclude that s/he despises me.

And, for heaven's sake, I don't like for being underestimate.

Okay, I don't wanna be a hypocrite. I look down on people, sometimes. BUT, I keep it for myself. I don't make it so obvious for others can tell that I have underrated someone. But soon I realise it is wrong, also since I know that I detest for being underestimate and know exactly how it feels, so I try my best to defense myself from that kinds of thought.

And I will always remember, both people and events, that put me as a victim of underestimate crime *halah*.

Like what happened on one night in few months ago. One of my cousins (in the name of secrecy, let's call him as A) called me and asked me accompanying him and another two cousins. I accepted his invitation. So, four of us hung out that night. We ate, played games, chatted, roamed the city with his car, until we found the night was already late and it was time to go home.

We took my other cousin, let's call her B, first to her home. So, there were three of us, me (the beautiful girl left in the car), A, and C (another cousin. :D) in the car. I sat on the back and those two gentlemen were sitting on the front.

I was sleepy and was trying to close my eyes when I heard them talking in whisper. Which made me sadder was they were talking in English as if I didn't understand any single word that came out from their mouth! (FYI, we were talking in Bahasa for whole night, then why suddenly they talked in English? Were they thinking that I was no capable of understanding any utterances if were spoken in English? I know that my English is so-so, but please, deh... This is what I call an underestimate!)

Okay, Lads, if you want to talk about something that is so confidential and want no one eavesdropping you, I highly suggest you to talk in language that people surrounding you don't speak that language--any languages, but no English nor Indonesian nor Lampungnese, since I comprehend those three languages even though only for a grasp. Another suggestion is you may find a secret place with no one but you know the place, and there you can talk about every thing WITHOUT need to whisper or feel afraid of getting caught. Most importantly, you don't have to say, "The girl behind you may hear what you're saying."

Sigh.

Another story is last night incident. I asked someone politely about his status on Facebook. Two or three times and no response from him. Did he think of me as a non-being and it was his justification for ignoring me? Or did he think of me as nobody, so he didn't need to answer my question? Another story me of being underestimate.

Sigh.

Like I said before, I would always remember both the people and events that put me as a victim of underestimate crime.

Rabu, 2009 Juni 24

Happy Birthday, Galeshka!

Dear Galeshka,

I know we’ve known each other for not a very long time. Eight months? More or less? Ah, it doesn’t matter, since I felt I’ve known you for ages. First time I knew you from Plurk, and thanks to Plurk, since that we’ve become close. Though latter, you admitted that you had been following my blog since mid year 2008. Thanks for being my fans, anyway. :D 

On December 2008, I still didn’t know you really well, but you helped me making my internship application letter, also you helped me making the internship report. :D Thank you for that.

And on one night, when we chatted on YM, I confided in you my secrets. The real secrets of me. I allowed you to see the dark side of me. You knew how messed I was (still am, I think). In that solitude night, I grumbled on everything. You spoke blandly to reduce my tension. It worked. Somehow I felt relieved and curious at the same time. We never met in real life before. I barely knew you, but I trusted you. Then, you, with your horoscope-thing belief, made hypothesis we felt close because we had the same shio which was Rabbit. “We had so much in common,” you said, “and I think that’s one of the reasons we feel connected. Like, I know you and you know me.” 

Okay. I don’t know much about horoscope, but I agree the latter. I feel there is a connection between us. 

Later on, you spoke to me on the phone, “Maybe we were brother and sister in the previous life.” Maybe. Who knows? What I do know is this: You are my brother in this present life.

So today, in your happy day, I would like to wish you a wonderful life. Hopefully you get everything what you want, what you wish for, and what you dream of. I am really sorry I didn’t have a gift for you to give (let me be honest that I’m in bankrupt state, :( ). All I can give is my prayers to you, my dear Brother. *wish you all the best deh pokoknya! hehehehe...*

And...

I just wanna say thank you. Thank you for being my brother and my best friend. Thank you for lending me your shoulder every time I need it to cry on. 

You know, someone once said to me, “It is easy to find an enemy. When you sit on the sidewalk, just throw a pebble to a walking man, and... there! You’ve got your enemy. But, it takes so much effort to find a best friend. It needs patient, a lot of understanding, whirling emotions, and more to have one. Surely it’s not easy to find someone that understands you completely. And of course, it’s not that simple to have a person who offers his or her ears to hear all your whinning, moaning, sad-pathetic love drama, or simply your daily stories. But, all your efforts are worthed.”

I agree with that. Completely.

Once again, thank you for being there. For understanding me without judging me. For listening my stories without complaining. For all your lessons about value of life. Thank you for every thing.

Now, you will live a long happy life, won’t you? Throw all the ordeals behind you. Leave them all to yesterday. And have some fun! *youthful mode ON*

Jumat, 2009 Juni 19

Bapak saya (sepertinya) akan selalu menganggap saya sebagai gadis kecilnya. Beliau sering lupa kalau usia saya sudah 22 tahun, yang menurut teori perkembangan sosialnya Bapak Erikson saya ini sudah dewasa muda. Artinya kan kalau sudah dewasa (meskipun masih muda *evil grin*), saya sudah bisa mengambil keputusan sendiri donk ya? Mau saya jungkir balik atau loncat dari tebing, ya suka-suka saya. Tapi ya, nda mungkin juga lah saya loncat dari tebing. Alangkah bodohnya saya kalau saya memutuskan demikian. Masa depan saya masih panjang... *merenung* Masih banyak hal yang ingin saya capai. Lagian, kasihan para penggemar saya. Sungguh, saya tidak kuasa melihat orang lain (apalagi penggemar sendiri) bersedih karena saya. :( 

Tapi, masih menurut bapak saya, saya ini orangnya belum bisa mengambil keputusan sendiri. Menurutnya, saya ini orangnya plin-plan. Bagai air di daun talas, kalau kata pepatah. Jadi, menurut beliau, saya ini masih perlu dibimbing dalam setiap pengambilan keputusan. Alasan beliau, saya ini hanya semangat diawal. Kalau kata ibu guru Bahasa Indonesia, hangat-hangat tahi ayam. Warm-warm chicken shit, kalau terjemahan bebasnya. Hakahkahkahakhakhak......... 

Awalnya saya sempat bete juga dibilang begitu. Tapi, setelah saya renungkan kembali beliau ada benarnya juga. Salah satu contohnya waktu saya menelpon beliau dan mohon izin (baca: minta duit) untuk les bahasa Jerman. Bapak saya kurang setuju. Beliau bilang, “Lebih baik kamu belajar bahasa Inggris lagi. Bahasa Inggris kamu kan sudah jarang dipake. Daripada kamu les bahasa Jerman, tapi cuma setengah-setengah kan sayang. Nanti takutnya bahasa Inggris kamu tidak menguasai, bahasa Jerman kamu cuma sembari lewat aja.” Saya pun membantah. Dengan rayuan maut saya, akhirnya beliau memberi izin saya untuk les bahasa Jerman walaupun di akhir pembicaraan beliau bilang, “Kamu kan orangnya cuma semangat di awal aja.” Dan, yah, beliau benar. Saya hanya semangat di permulaan. :p

Belajar dari kejadian tersebut (dan kejadian-kejadian lainnya), setiap kali akan mengambil keputusan saya selalu meminta pertimbangan orang lain, terutama ya bapak saya. Seperti waktu hari Minggu lalu. Pagi-pagi saya menelpon bapak saya. Saya ceritakan kepada beliau saya dapat IPK sekian (saya menyebut IPK saya itu IPK marginal. Terletak di pinggir. Perbatasan. :D), SKS sudah mencukupi untuk bisa mengajukan proposal skripsi, kalau semuanya lancar ya bisa lah lulus semester depan. Tapi saya terbentur kendala klasik: belum menemukan topik. Sedangkan proposalnya paling lambat dikumpul tanggal 13 Juli. 

“Papa ada saran gak?” tanya saya.

Iya deh, saya tahu Psikologi memang bukan bidang bapak saya. Lahan beliau itu ya yang terkait dengan ekonomi, berhubung beliau dosen ekonomi kan. Sekarang beliau pun masih aktif bekerja di sektor perbankan. Namun, entah mengapa saya merasa saya harus sowan dulu ke beliau. Menelpon beliau, meminta sarannya, yah... pokoknya saya belum tenang kalau saya belum menceritakan keadaan saya yang sekarang ke beliau. Curhat anak ke bapaknya. Sekaligus mendengarkan beliau berujar, “Syukurlah, Nak, IP kamu segitu.” :D *senang sampai ke ubun-ubun*

Meskipun bapak tidak memberikan saran secara spesifik topik apa yang sebaiknya saya ambil untuk skripsi, beliau tetap memberikan saran. Disarankannya saya rajin ke perpustakaan untuk melihat-lihat skripsi-skripsi sebelumnya, lebih banyak baca literatur, rajin baca jurnal. Saran yang standar memang, tapi menjadi extraordinary ketika keluar dari mulut bapak saya. :)

Maka saya pun sekarang sedang bersemangat untuk tidak lelah mencari topik skripsi. Doakan saja semoga saya tidak hanya semangat di awal! Lebih bagus lagi berdoa untuk dicabutnya kebijakan menulis skripsi untuk mendapatkan gelar S.Psi. Hahahahahahahaha...

Tapi...
Semangat sih semangat...
Tapi... 
Tetap aja bingung...

Kebingungan saya itu terpancar jelas di timeline Plurk saya kemarin-kemarin:

kimibersahaja [mendambakan] topik skripsi sama besar dengan mendambakan dirimu. (rock)
kimibersahaja [pikir] mencari topik skripsi sama susahnya dengan mendapatkan hatimu.

Iya dehhhh... itu tret curcol. Itu tret gombalisme edition. Hehehehehehehe... (ninja) 

Jumat, 2009 Juni 12

Last Sunday night, I went out to get some food.

As I was walking, I glanced at the sky. It was dark but clear. No stars. There was a moon alone shined brightly that night. It was a full moon and it was soooo beautiful.

I couldn't help myself for not smiling. Then, my thoughts went wandering to one place. To one subject. To you. The beautiful-full moon reminded me of you. It was so pretty, just like you were.

I kept walking. My mind kept thinking of you. Where were you now? What were you doing? Were you looking at the moon, just like I was?

I took a long deep sigh. Suddenly it occured to me that the warteg (hahaha,,, udah nulis pake boso linggis, makannya yo tetep di warteg. :D) which I headed was farther than I expected. Was it because of you? Was it one of your magic things? Nah, I didn't care. The farther the better, because it meant the longer I was thinking about you.

Ah, I miss you now. I've been missing you a whole week since the last time we met. I will miss you tomorrow. I will be missing you forever.

You know, that night I prayed. I prayed we're meant to be together. I also wished I could spent the rest of the night with you. I wished you sit beside me, accompanying me to watch the beautiful moon. We could sit in solitude, with your hand held mine. No need chit chat or so-called quality conversations. Let our hearts do the talking.