Minggu, 13 September 2009
Every Me, Every You
Rabu, 09 September 2009
Ingin Tidak Berhati
Tadi selesai sholat Isya, saya menengadahkan kedua tangan saya. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka bilang ketika kita berdoa kita harus merendahkan diri kita dihadapan Tuhan. Tujuannya jelas, yakni agar doa kita dikabulkan oleh-Nya. Saya pun meminta dengan segala kerendahan hati. Dan saya tersadar mencoba untuk melepaskan selapis demi selapis kain kesombongan yang menutupi jiwa bukan perkara mudah. Tapi, saya tetap berusaha.
Selama beberapa menit saya berdoa. Saya mencoba untuk sekhusyuk mungkin. Namun, tiba-tiba sekelebat wajah hadir. Ah, dia lagi. Tidak bisakah dia meninggalkan saya barang sebentar saja? Atau lebih baik selamanya.
Maka buyarlah kekhusyukan itu. Saya menutupi wajah saya dengan kedua tangan. Rasa lelah pun menghinggapi. Sungguh, saya lelah luar biasa. Dan masih dengan memakai mukena, saya merebahkan tubuh di atas sajadah. Beristirahat untuk waktu yang tidak lama. Sambil memejamkan mata, saya menarik nafas dalam-dalam kemudian saya hembuskan seraya berharap wajah itu bisa ikut keluar bersamaan dengan nafas yang keluar.
Kembali saya terjebak. Kembali perasaan mengalahkan logika. Kembali saya melemah. Kembali perasaan halus namun setajam pisau itu mengancam akan meruntuhkan tembok tebal pertahanan yang telah saya bangun dengan susah payah. Dan harus saya akui, saya terancam kalah. Kembali ancaman untuk runtuh dan terjatuh pada titik nadir menari-nari di depan mata.
Dan sayup-sayup suara George Michael mengalun dari winamp saya.
You are far, I’ll never gonna be your star
I’ll pick up the pieces and mend my heart
Maybe I was strong enough, I don’t know where to start
But, I’ll never find peace of mind while I listen to my heart
(George Michael, “Kissing A Fool”)
Terkadang saya berpikir akan jauh lebih mudah jika saya tidak berhati. Biarlah saya teralienasi dari dunia. Diacuhkan orang-orang bukan perkara besar bagi saya. Berjalan sendiri menapaki rel kehidupan anggap saja sebagai sebuah tantangan. Menangis dan tertawa sendiri. Berkeluh kesah dan bercanda sendiri. Biarlah saya disangka gila. Gila karena tidak butuh teman untuk berbagi semuanya. Gila sendirian. Tidak ada teman menemani. Tidak ada seseorang yang saya berikan hati saya. Hal itu jelas. Apa yang bisa dibagi kalau saya sendiri tidak punya apa yang akan dibagi?
Tidak perlu saya merasa sakit atau mual akibat terombang-ambing oleh hati. Pun saya tidak akan ikut dalam permainan yang diselenggarakan oleh hati. Permainan yang dapat membuat saya kalah dan kehilangan semua. Pun saya tidak akan terjatuh ke lubang paling dalam karena didorong oleh hati.
Namun sayang, saya masih berhati. Berhati dan memiliki hati nurani (apa bedanya, Kim?). Hati nurani yang sekarang mengatakan apa yang saya rasakan saat ini adalah sesuatu hal yang salah. Hati nurani saya menghukum dan mencela saya karena ini. Saya pun menjadi gelisah, cemas, dan tidak tenang dibuatnya. K. Bertens bilang saya ini mempunyai bad conscience. Dan hati nurani memerintahkan saya untuk menjauhi si pemilik wajah tadi dan menjaga pemilik wajah lain yang sekarang mengisi hari-hari saya.
Sekarang munculah sebuah pertanyaan: BISAKAH SAYA?
p.s.: Untuk kamu, akhirnya aku bertemu kamu juga. Senang siiiihhh…, sekaligus sakit dan bingung.
Rabu, 05 Agustus 2009
There Are Some Things That Can Not Be Fixed
Baiklah.
Terserah mereka saja. Karena bagi saya toh bertemu dengan teman lama di FB atau tidak, berpengaruh sedikit bagi saya. Oke, saya bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, hingga teman kuliah sewaktu saya masih di D3 Akuntansi Unila dulu. Kemudian, apa? Mengobrol di FB? Tidak. Saling membalas status? Apalagi itu. Menulis di wall mereka? Meh, malas. Jadinya gak ngaruh juga kan? Teman lama, teman baru, FB mulai membosankan. Bikin mual lama-kelamaan.
Penggemar : Yeeee... Itu mah emang lo-nya aja yang malas bersosialisasi di FB.
Hahaha... Itu bisa dijadikan alasan sih. Sekarang ini saya sudah mulai malas login ke FB. Kalaupun saya login ke FB tidak lebih dari melihat notes yang men-tag nama saya, membalas mereka yang menulis di wall, terakhir meluangkan waktu sejenak untuk melihat profil tambatan hati.
Mau curhat sedikit.
Belakangan ini saya sedikit menyesal punya akun FB. Saya bukan termasuk orang yang memiliki masa lalu gilang gemilang sehingga layak dikenang. Bertemu dengan teman-teman lama tidak berpengaruh apa-apa karena toh saya juga tidak punya banyak teman yang bisa dikatakan akrab. Justru saya ingin menutup lembaran masa lalu. Tidak mau diungkit, mengungkit, atau ada yang iseng melakukan pengungkitan. *hasyah, apa pula ini maksudnya?*
Bagi saya, apa yang sudah berlalu ya biarkan berlalu. Yang sudah terjadi ya terjadilah. Tidak usah diingat. Apalagi kenangan yang pahit. Apalagi orang-orang yang membuat hidup terasa pahit. Nah, ada salah satu dari mereka yang sangat ingin saya hindari. Dan FB tidak membantu saya untuk menghindari beliau. Entah bagaimana beliau berhasil menemukan profil saya, dari friends-nya friends kah, sengaja mencari nama saya kah, ah... banyak jalan menuju Roma bukan?
Hingga sekarang saya belum meng-approve friend request beliau. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan. Ya, saya sadari kenangan menyakitkan itu juga terbentuk dari beberapa kesalahan saya. Saya mengakui itu dan saya merasa bersalah karenanya, sekaligus merasa bodoh. Sehingga akhirnya saya memutuskan saya tidak mau tahu apa-apa lagi dari orang tersebut (tentunya selain dipicu faktor interaksi terakhir kami diakhiri dengan cara yang sungguh tidak mengenakkan).
Dan akhirnya saya pada kesimpulan:
Minggu, 02 Agustus 2009
Boros Itu (Terkadang) Baik
Penggemar : Ga mungkin lah, Kim. Gak percaya gue. Lo kan orangnya hemat bin pelit bin medit.
Penggemar : Iya, Kim. Selalu ada kok.
Penggemar : Coba produk tapi sekaligus beli empat item, Kim?
Penggemar : "Kalau gak salah", Kim?? (doh)
Rabu, 29 Juli 2009
Antara Bosan dan Keinginan
Minggu, 26 Juli 2009
Untuk Apa?
Teman : Buat apa ngasih tau dia kalau cuma pengen ngasih tau?Terus kenapa kalau dia tahu kamu suka ma dia?
Dancing in The Rain
I was not in a good state when I decided to come to futsal practice last Wednesday afternoon. I felt my skin was a little bit warm and I was (still am) having cough. I haven’t been fully recovered from my sickness, yet I was forced myself to practice as I already sent text message to a friend that I would come practicing.
I’m not really a big fan of rain—in fact, I once hated rain—but that afternoon during the walk to my campus, I was hoping it would rain so I didn’t have to practice. I looked at the sky and it was cloudy, one of the signs that rain would pour down. I prayed, “Dear God, would You be kindly enough to give us, particularly me, rain down here?”
I didn’t stop praying during the walk.
When I arrived at campus' futsal court, sky was getting darker. I could tell you that my friends, from their faces, that they were worried it would rain therefore the practice automatically would be cancelled. Contrary to me, they, with all their big hearts, were hoping the sky was getting clearer and brighter. Hoping that sun would show up and would shine beautifully. But, God chose to answer my prayers, not theirs.
It started to drizzle when we were having our stretching. It was so clear to me that my friends were upset. They were annoyed with the drizzle and, of course, they were still hoping the drizzle wouldn’t turn into a big rain. One of them muttered, “Crap! Why would it rain when I’m in my zest to practice?” Oh dear friend of mine, believe me, the reason I hated rain was exactly the same as what you said.
So, with a big disappoinment—but a big smile from me—we had to finish our stretching. With a shambling gait, we took a shelter on a roof-bench. There we were waiting the drizzle to stop. Unfortunately, it’s not. But rather it became rain cats and dogs. Now, it’s my turn to get upset. If I had known that it would be a big raining, I wouldn’t have come. I’d rather to loaf around in my bed or finish my readings. Now, with such a big and hard raining—please do count lightning and thunder—we sat there, on the bench, with different intentions hoping it would stop.
An hour already passed and the rain didn’t show any sign to stop. One of my friends finally said, “Let’s play! I won’t come here for nothing!” To make it short, despite the big raining, lightning, and thunder, we all played futsal. Yes, we were playing futsal in that big raining afternoon and we all were soaking wet. We didn’t care flu or cough or fever might haunt us. We weren’t afraid at all. We looked like some innocent children playing around. We were laughing, shouting, playing stupid, mocking ourselves, on top of it WE WERE HAVING FUN. So much fun.
At that moment I felt how lucky I was having these futsal-addicted people as my friends. I was, am, and always will be grateful for knowing them and having them as friends.
So now, I do not regret coming for practicing that Wednesday afternoon. In fact, I am so blissed.
p.s. : Frankly speaking, it is appalling to me that now I’m intoxicated by rain. I’m starting to love rain. I love playing futsal in big and hard raining with my friends. I want to do it again. Soon.



