Minggu, 13 September 2009

Every Me, Every You

Pagi tadi ketika saya bangun untuk sahur, ada satu pesan masuk di ponsel saya. Pesan dari sahabat lama sejak SMA. Teman yang bernama sama dengan saya itu memberikan berita duka. Ayah teman kami, Uci, meninggal dunia tadi malam. Beliau meninggal karena kanker dan rencananya, InsyaAlloh, nanti pukul 10 pagi akan dibawa ke kampung halaman. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan. Amin.

Sebuah berita yang sungguh mengejutkan di pagi buta. Mengejutkan hingga membuat saya cukup shock mendengarnya. Ada kesedihan mendalam yang saya rasakan saat itu. Uci adalah teman dekat saya sewaktu SMA. Sudah lama kami tidak berjumpa. Sudah lama pula saya tidak mendengar kabar dari dia. Dan sekalinya dapat kabar, berita duka yang saya dengar.

Saya sedih.

Saya sedih karena saya merasa saya telah mengabaikan teman dekat saya itu. Saya tidak tahu kalau ayahnya mengidap kanker stadium 4. Jenis kankernya apa, saya tidak tahu. Seharusnya saya tetap menjaga komunikasi dengan Uci (dan dengan teman-teman lama yang lain). Dengan demikian, saya bisa selalu tahu kabar tentang dia. Baik dan buruk. Saya bisa menemani dia di saat-saat rapuhnya. Agar dia tahu bahwa dia tidak sendiri dan dia bisa melewati semuanya.

Saya sangat memahami di saat sedih kita tidak pernah mau sendiri. Ralat, kita tidak bisa sendiri. Kita butuh teman untuk berbagi, entah itu berbagi kesedihan, cerita, atau tangisan. Kita butuh bahu untuk bersandar. Kita butuh pelukan hangat untuk menenangkan kita. Saya paham karena saya pernah di masa itu. Lebih spesifik, masa dimana saya hampir kehilangan ayah saya.

Awal tahun ini, ayah saya didiagnosa kanker usus stadium 2. Untung saja penyakit beliau sedari dini diketahui. Kankernya belum menyebar, meskipun demikian dokter dengan tegas menyarankan untuk operasi dan setelahnya harus dikemoterapi. Awalnya, ayah saya merasa berkeberatan untuk dikemoterapi. Namun, atas beberapa pertimbangan beliau pun mau untuk menjalankannya.

Baru jalan kemoterapi yang ketiga, timbullah efek akibat kemoterapi tersebut. Kulit ayah saya menghitam, kaki beliau membengkak, dan sebagainya. Keluarga pun memutuskan ayah saya harus dibawa lagi ke dokter. Dokter pun mengambil keputusan ayah saya harus dirawat di rumah sakit.

Sejak saat itu, keadaannya pun semakin memburuk. Dokter-dokter yang menangani beliau belum berhasil mengetahui apa yang menyebabkan kondisinya demikian. Berat badan ayah menyusut drastis, badannya menguning, pokoknya sungguh saya tidak mampu melihat keadaan beliau saat itu.

Hingga suatu siang saat dokter datang melihat keadaan ayah. Ketika dokter menyedot cairan dari selang yang dimasukkan ke dalam tubuh ayah, ikut keluar cairan berwarna merah (atau merah kecoklatan ya? Ah, lupa.). Dokter pun terlihat bingung. Ia menyuruh suster agar cairan tersebut dicek di lab.

Tak lama kemudian, kakak saya dipanggil oleh dokter. Ayah saya sedang tidur, kami yang menunggu saat itu sedang santai-santai saja. Kami nonton tv, mengobrol, makan. Tidak ada pikiran cemas, takut, atau khawatir. Namun, keadaan berubah 180 derajat saat kakak saya kembali sambil menangis. Sambil terisak, ia bilang ayah saya harus masuk ICU. Ternyata, keadaan ayah sudah sedemikian parahnya. Telat sedikit saja, mungkin ayah saya tidak lagi menemani kami disini.

Kontan kami semua panik. Semuanya menangis. Kakak saya menghubungi keluarga di Lampung memberitahu keadaan terakhir ayah. Om saya menghubungi keluarga yang lain. Entah siapa lagi menghubungi siapa. Kami semua yang saat itu berada disana hanya bisa berdoa dan memohon doa kepada sanak keluarga untuk kesembuhan ayah. Pikiran buruk menyergap kami. Bagaimana kalau ayah meninggal? Bahkan, kakak di Lampung sudah berniat untuk memesan tenda kalau-kalau kami pulang ke rumah di Lampung dengan membawa berita buruk.

Sedangkan saya? Saya kabur ke kamar mandi, menelpon seseorang, dan menangis sesenggukan meminta agar ia mendoakan kesembuhan ayah saya.

Selama lebih dari sembilan hari ayah di ICU. Lambat laun keadaannya membaik. Dan, Alhamdulillah, sekarang beliau sudah bisa beraktivitas normal kembali. Beliau sudah mulai mengantor, berolahraga, bahkan terkadang beliau menyetir mobilnya sendiri.sengihnampakgigi

Banyak hal yang saya pelajari dari peristiwa tersebut. Salah satunya adalah secuek atau setidak peduli apapun saya, ternyata saya tetap membutuhkan orang lain untuk mau mendengarkan saya menangis. Saya tetap membutuhkan suntikan semangat untuk tetap tegar. Suntikan yang tidak bisa saya lakukan sendiri, melainkan suntikan dari orang lain baik itu berupa perhatian, kasih sayang, maupun hanya sekedar ucapan penyemangat bahwa, "Semuanya akan baik-baik saja dan ayah pasti akan sembuh. Yang tabah ya.".

Saya yakin tidak hanya saya yang membutuhkan orang lain disaat dirinya sedang rapuh. Uci, teman-teman lain, semua orang pasti merasakan hal yang sama. Sekarang, saya harus menemani Uci. Abaikanlah jarak fisik diantara kami. Saya akan berada di samping dia dan memeluknya erat. Tentu saja jika dia mengizinkan.

Rabu, 09 September 2009

Ingin Tidak Berhati

Tadi selesai sholat Isya, saya menengadahkan kedua tangan saya. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka bilang ketika kita berdoa kita harus merendahkan diri kita dihadapan Tuhan. Tujuannya jelas, yakni agar doa kita dikabulkan oleh-Nya. Saya pun meminta dengan segala kerendahan hati. Dan saya tersadar mencoba untuk melepaskan selapis demi selapis kain kesombongan yang menutupi jiwa bukan perkara mudah. Tapi, saya tetap berusaha.

Selama beberapa menit saya berdoa. Saya mencoba untuk sekhusyuk mungkin. Namun, tiba-tiba sekelebat wajah hadir. Ah, dia lagi. Tidak bisakah dia meninggalkan saya barang sebentar saja? Atau lebih baik selamanya.

Maka buyarlah kekhusyukan itu. Saya menutupi wajah saya dengan kedua tangan. Rasa lelah pun menghinggapi. Sungguh, saya lelah luar biasa. Dan masih dengan memakai mukena, saya merebahkan tubuh di atas sajadah. Beristirahat untuk waktu yang tidak lama. Sambil memejamkan mata, saya menarik nafas dalam-dalam kemudian saya hembuskan seraya berharap wajah itu bisa ikut keluar bersamaan dengan nafas yang keluar.

Kembali saya terjebak. Kembali perasaan mengalahkan logika. Kembali saya melemah. Kembali perasaan halus namun setajam pisau itu mengancam akan meruntuhkan tembok tebal pertahanan yang telah saya bangun dengan susah payah. Dan harus saya akui, saya terancam kalah. Kembali ancaman untuk runtuh dan terjatuh pada titik nadir menari-nari di depan mata.

Dan sayup-sayup suara George Michael mengalun dari winamp saya.

You are far, I’ll never gonna be your star

I’ll pick up the pieces and mend my heart

Maybe I was strong enough, I don’t know where to start

But, I’ll never find peace of mind while I listen to my heart

(George Michael, “Kissing A Fool”)

Terkadang saya berpikir akan jauh lebih mudah jika saya tidak berhati. Biarlah saya teralienasi dari dunia. Diacuhkan orang-orang bukan perkara besar bagi saya. Berjalan sendiri menapaki rel kehidupan anggap saja sebagai sebuah tantangan. Menangis dan tertawa sendiri. Berkeluh kesah dan bercanda sendiri. Biarlah saya disangka gila. Gila karena tidak butuh teman untuk berbagi semuanya. Gila sendirian. Tidak ada teman menemani. Tidak ada seseorang yang saya berikan hati saya. Hal itu jelas. Apa yang bisa dibagi kalau saya sendiri tidak punya apa yang akan dibagi?

Tidak perlu saya merasa sakit atau mual akibat terombang-ambing oleh hati. Pun saya tidak akan ikut dalam permainan yang diselenggarakan oleh hati. Permainan yang dapat membuat saya kalah dan kehilangan semua. Pun saya tidak akan terjatuh ke lubang paling dalam karena didorong oleh hati.

Namun sayang, saya masih berhati. Berhati dan memiliki hati nurani (apa bedanya, Kim?). Hati nurani yang sekarang mengatakan apa yang saya rasakan saat ini adalah sesuatu hal yang salah. Hati nurani saya menghukum dan mencela saya karena ini. Saya pun menjadi gelisah, cemas, dan tidak tenang dibuatnya. K. Bertens bilang saya ini mempunyai bad conscience. Dan hati nurani memerintahkan saya untuk menjauhi si pemilik wajah tadi dan menjaga pemilik wajah lain yang sekarang mengisi hari-hari saya.

Sekarang munculah sebuah pertanyaan: BISAKAH SAYA?

p.s.: Untuk kamu, akhirnya aku bertemu kamu juga. Senang siiiihhh…, sekaligus sakit dan bingung.

Rabu, 05 Agustus 2009

There Are Some Things That Can Not Be Fixed

Banyak yang bilang ke saya alasan mereka nge-FB karena mereka bisa bertemu dengan teman-teman lama. Kembali menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Bercengkerama melalui dunia maya mengingat kenangan masa lampau.

Baiklah.

Terserah mereka saja. Karena bagi saya toh bertemu dengan teman lama di FB atau tidak, berpengaruh sedikit bagi saya. Oke, saya bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, hingga teman kuliah sewaktu saya masih di D3 Akuntansi Unila dulu. Kemudian, apa? Mengobrol di FB? Tidak. Saling membalas status? Apalagi itu. Menulis di wall mereka? Meh, malas. Jadinya gak ngaruh juga kan? Teman lama, teman baru, FB mulai membosankan. Bikin mual lama-kelamaan.

Penggemar : Yeeee... Itu mah emang lo-nya aja yang malas bersosialisasi di FB.


Hahaha... Itu bisa dijadikan alasan sih. Sekarang ini saya sudah mulai malas login ke FB. Kalaupun saya login ke FB tidak lebih dari melihat notes yang men-tag nama saya, membalas mereka yang menulis di wall, terakhir meluangkan waktu sejenak untuk melihat profil tambatan hati. Sejenak tapi bisa bikin hati berdarah-darah untuk waktu lama. putuscinte

Mau curhat sedikit.

Belakangan ini saya sedikit menyesal punya akun FB. Saya bukan termasuk orang yang memiliki masa lalu gilang gemilang sehingga layak dikenang. Bertemu dengan teman-teman lama tidak berpengaruh apa-apa karena toh saya juga tidak punya banyak teman yang bisa dikatakan akrab. Justru saya ingin menutup lembaran masa lalu. Tidak mau diungkit, mengungkit, atau ada yang iseng melakukan pengungkitan. *hasyah, apa pula ini maksudnya?*

Bagi saya, apa yang sudah berlalu ya biarkan berlalu. Yang sudah terjadi ya terjadilah. Tidak usah diingat. Apalagi kenangan yang pahit. Apalagi orang-orang yang membuat hidup terasa pahit. Nah, ada salah satu dari mereka yang sangat ingin saya hindari. Dan FB tidak membantu saya untuk menghindari beliau. Entah bagaimana beliau berhasil menemukan profil saya, dari friends-nya friends kah, sengaja mencari nama saya kah, ah... banyak jalan menuju Roma bukan?

Hingga sekarang saya belum meng-approve friend request beliau. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan. Ya, saya sadari kenangan menyakitkan itu juga terbentuk dari beberapa kesalahan saya. Saya mengakui itu dan saya merasa bersalah karenanya, sekaligus merasa bodoh. Sehingga akhirnya saya memutuskan saya tidak mau tahu apa-apa lagi dari orang tersebut (tentunya selain dipicu faktor interaksi terakhir kami diakhiri dengan cara yang sungguh tidak mengenakkan).

Dan akhirnya saya pada kesimpulan:

There are some things that can not be fixed.

Anggaplah suatu barang sudah rusak, sudah pecah, kemudian ingin diperbaiki ya tidak apa-apa. Terserah bagaimana caranya. Mau dilem kek, diperban kek, dilakban kek, whatever. Masalahnya bisa saja bukan bertambah baik, justru bertambah rusak. Jadi, untuk apa kan? Lebih baik biarkan saja barang itu rusak. Buang ke tong sampah. Kemudian, "Langkah tegap maju, JALAN!"

Minggu, 02 Agustus 2009

Boros Itu (Terkadang) Baik

Selalu ada pembenaran untuk segala sesuatu. Saya sih (cukup) percaya dengan pernyataan tersebut. Apalagi kalau dikaitkan dengan episode telah-menghabiskan-banyak-uang-dalam-sehari versi saya. *ngumpet*

Saya selalu menyebut diri saya sebagai sasaran empuk bagi para penjual. Tinggal kasih saya rayuan sedikit, bisa hampir dipastikan saya akan membeli barang yang ditawarkan. Kalau pun misalnya saya tidak membeli barang tersebut, pastinya dikarenakan dua hal. Pertama, saya memang sedang tidak memiliki uang saat itu. Kedua, saya, dengan semangat '45, sedang berhemat. Nah, yang terakhir ini jarang-jarang terjadi. Karena, ya... itu tadi. Balik lagi ke soal saya yang mudah dibujuk rayu. Selain itu, ya emang udah dari orok kali saya ini berbakat untuk boros. (cry)

Penggemar : Ga mungkin lah, Kim. Gak percaya gue. Lo kan orangnya hemat bin pelit bin medit.

Loh, kok gak percaya sih? Butuh bukti? Nih ya, kemarin Jumat saya pasrah menyerahkan kartu debit Visa Mandiri saya ke Mbak-mbak kasir di Body Shop itu bisa dijadiin bukti kan? Yang ketika keluar dari sana saya menenteng satu kantong belanjaan isinya body butter, lotion, body scrub, dan shower gel. Bisa dihitung sendiri lah berapa uang saya buat Body Shop. *pentung-pentung diri sendiri*

But, heyyyy... Selalu ada pembenaran untuk segala sesuatu kan?

Penggemar : Iya, Kim. Selalu ada kok.

Aih... seneng deh ada yang mendukung. Sini... sini... Sampeyan aku cium. *tebar cium ke penggemar*

Nah jadi, setelah keluar dari Body Shop dengan langkah lemah, saya mencoba mencari pembenaran tersebut. Dan, Saudara-saudara, banyak juga yang bisa dijadikan pembenarannya!

1. Mbak pegawai Body Shop-nya tuh keukeuh banget ngikutin kemana saya pergi. Jadinya kan saya ngerasa nda enak kalau nda beli produknya. Saya pegang body butter, si Mbak-nya langsung jelasin manfaat body butter. Saya pegang shampo, langsung dibilang ini bahannya asli natural blablablabla... Saya tanya Body Shop bagusnya apa, eh dia langsung kampanye Body Shop.

2. Sebelumnya saya tidak pernah memakai produk-produk Body Shop. Jadinya ya sekalian aja dicoba produknya.

Penggemar : Coba produk tapi sekaligus beli empat item, Kim?

Ng... *ngumpet di balik daun pisang*

3. Lagi ada promo Body Shop di Margo City. Kalau menunjukkan kartu siswa bisa dapat diskon 20% shower gel dan body lotion-nya. Terus, dapat diskon 50% untuk body butter dan body scrubnya. Kalau gak salah sih gitu... Diskonnya cuma untuk hari Jumat kemarin aja. Kan jadinya sayang kalau saya nda beli barang diskonan... *kalem*

Penggemar : "Kalau gak salah", Kim?? (doh)

4. Saya tidak kuasa untuk berkata tidak sama Mbak yang kemarin nguntitin saya di Body Shop. "Pake ini, Mbak, bisa membuat kulit jadi putih cerah." Spontan saya bilang, "Berarti bisa ngilangin bekas gigitan nyamuk dong ya? Kaki saya kan budukan, Mbak..." Mbak-nya tersenyum manis sambil bilang, "Yah, bisa menyamarkan kok..."

Menjadi catatan bagi saya untuk lebih fokus pada kata "menyamarkan". Huuuhhh...

5. Harga boleh mahal, tapi bisa dipake buat berbulan-bulan! Seperti yang kemarin Mbak-nya bilang ke saya, "Tapi kan produknya ini, Mbak bisa pake 2-3 bulan." Berarti kalau saya pakenya lebih hemat lagi, sedikit demi sedikit, bisa nyampe 6 bulan gak ya? (thinking)


6. Seperti yang dibilang di situs Body Shop, yang mengusung cinta bumi dan sejenisnya, juga sebagaimana yang tertera di kantong belanjaan Body Shop:

Love the world? Show it some affection.
We can all do more to protect our planet and its natural resources.

Saya sih mikirnya ini langkah menengah saya untuk membuktikan cinta saya kepada bumi yang sudah tua ini. *peduli lingkungan mode ON*

7. Anggap sajalah ini sebagai investasi. *lirik-lirik ke Kitin* Kulit mulus, putih cerah, kaki terbebas dari bekas gigitan nyamuk, saya semakin cakep dan keren, sehingga orangtua pun semakin bangga punya anak seperti saya. Ahayyy!!! *joget-joget*

8. Bagi-bagi rejeki lah dengan Body Shop. *alasan paling nda mutu*

9. Ng... Apalagi ya??

*membaca ulang pembenaran-pembenaran di atas*

Baiklah. Sekarang saya tidak begitu menyesal telah buang duit receh ke Body Shop. *sombong akut* Berarti sekarang saatnya kembali menabung! Berhemat harus berada di to-do-list paling atas. Demi masa depan... Demi biaya menikah. Hasyah. *ngumpet di balik pisau*

p.s.: apa tho bedanya body lotion dan body butter? Fungsinya sama kok rakus amat beli dua-duanya. Terus, sok-sokan beli body scrub. Padahal tahu cara penggunaannya aja enggak. Hakahkahakhakhakhakhaka...

Rabu, 29 Juli 2009

Antara Bosan dan Keinginan

Everything happens for a reason. Itu kata mereka-mereka. Mereka-mereka siapa? Pokoknya mereka yang seringkali berseliweran di dekat saya.

Tetapi, menurut saya pribadi, terkadang segala sesuatu itu tidak butuh alasan. Seperti sekarang yang sedang saya rasakan:

BOSAN

Dan saya sekarang ingin pergi jauh. Entah pergi kemana. Pokoknya pergi. Kemana saja. Menjauh dari sini. Dari keramaian. Dari segala hiruk pikuk.

Sedang ingin menjadi "anak nakal" versi orangtua saya. Ingin merokok, ingin mabok, ingin keluar malam.

Dan sekarang saya...

Ingin bebas.
Juga ingin sendiri.

Minggu, 26 Juli 2009

Untuk Apa?

Teman : Buat apa ngasih tau dia kalau cuma pengen ngasih tau?
Terus kenapa kalau dia tahu kamu suka ma dia?

Apapun jawabanku, Teman, pastinya aku sudah memberi tahu dia perasaanku.

Dancing in The Rain

I was not in a good state when I decided to come to futsal practice last Wednesday afternoon. I felt my skin was a little bit warm and I was (still am) having cough. I haven’t been fully recovered from my sickness, yet I was forced myself to practice as I already sent text message to a friend that I would come practicing.

I’m not really a big fan of rain—in fact, I once hated rain—but that afternoon during the walk to my campus, I was hoping it would rain so I didn’t have to practice. I looked at the sky and it was cloudy, one of the signs that rain would pour down. I prayed, “Dear God, would You be kindly enough to give us, particularly me, rain down here?”

I didn’t stop praying during the walk.

When I arrived at campus' futsal court, sky was getting darker. I could tell you that my friends, from their faces, that they were worried it would rain therefore the practice automatically would be cancelled. Contrary to me, they, with all their big hearts, were hoping the sky was getting clearer and brighter. Hoping that sun would show up and would shine beautifully. But, God chose to answer my prayers, not theirs.

It started to drizzle when we were having our stretching. It was so clear to me that my friends were upset. They were annoyed with the drizzle and, of course, they were still hoping the drizzle wouldn’t turn into a big rain. One of them muttered, “Crap! Why would it rain when I’m in my zest to practice?” Oh dear friend of mine, believe me, the reason I hated rain was exactly the same as what you said.

So, with a big disappoinment—but a big smile from me—we had to finish our stretching. With a shambling gait, we took a shelter on a roof-bench. There we were waiting the drizzle to stop. Unfortunately, it’s not. But rather it became rain cats and dogs. Now, it’s my turn to get upset. If I had known that it would be a big raining, I wouldn’t have come. I’d rather to loaf around in my bed or finish my readings. Now, with such a big and hard raining—please do count lightning and thunder—we sat there, on the bench, with different intentions hoping it would stop.

An hour already passed and the rain didn’t show any sign to stop. One of my friends finally said, “Let’s play! I won’t come here for nothing!” To make it short, despite the big raining, lightning, and thunder, we all played futsal. Yes, we were playing futsal in that big raining afternoon and we all were soaking wet. We didn’t care flu or cough or fever might haunt us. We weren’t afraid at all. We looked like some innocent children playing around. We were laughing, shouting, playing stupid, mocking ourselves, on top of it WE WERE HAVING FUN. So much fun.

At that moment I felt how lucky I was having these futsal-addicted people as my friends. I was, am, and always will be grateful for knowing them and having them as friends.

So now, I do not regret coming for practicing that Wednesday afternoon. In fact, I am so blissed.

p.s. : Frankly speaking, it is appalling to me that now I’m intoxicated by rain. I’m starting to love rain. I love playing futsal in big and hard raining with my friends. I want to do it again. Soon.

 
Free Blogger Templates